Kombinasi Buah Kering Sebagai Pangan Darurat Saat Bencana Alam

Karya Tulis Lomba Pendidikan

Indonesia secara geografis dan geologis terletak di daerah yang rawan terhadap bencana alam. Hal ini dikarenakan Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia, dengan 17.504 pulau dan terletak dalam lingkaran api pasifik, serta memiliki puluhan patahan aktif. Risiko tinggi terhadap berbagai bencana. Bencana yang terjadi bervariasi antar daerah, tergantung pada tingkat kerentanan lingkungan, fisik, dan sosial ekonomi masyarakat. Tak hanya memakan korban jiwa dan harta benda, bencana alam yang tak terelakan juga mengakibatkan kerusakan berbagai infrastruktuk. Hal ini menyebabkan terputusnya jalur distribusi sehingga sering kali menyulitkan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan hidupnya terutama kebutuhan terhadap pangan (Burtha, Syarief, and Sunarti 2008)

Hancurnya bangunan akibat becana alam
Sumber : Pinterest

Pemberian konsumsi untuk para korban bencana alam biasanya berupa lauk pauk dari makanan instan. Akan tetapi untuk pemberian makanan instan maksimal sampai 3 hari setelahnya. Makanan instan yang diberikan kepada korban sebagai bentuk peralihan untuk mengenyangkan perut. Setelah 3 hari, untuk asupan makanan harus di berikan secara lengkap. Para korban biasanya di beri makanan pokok dan lauk saja. Kandungan gizi yang di dapatkan dari makanan lainnya seperti sayur dan buah cenderung kurang. Faktor tersebut dikarenakan karenanya bahan penyimpanan yang kurang di lokasi pengungsian. Maka dari itu di butuhkan sayur dan buah untuk memenuhi asupan gizi dalam tubuh. Karena pada buah dan sayur mengandung mikronutrient yang berfungsi sebagai daya tahan tubuh agar tubuh tidak mudah terserang penyakit meski terkena musibah (Gombart, Pierre, and Maggini 2020).

Apel merupakan tanaman buah tahunan yang berasal dari daerah Asia Barat dengan iklim subtropis. Di Indonesia, apel telah ditanam sejak 1934. Di indonesia, apel dapat tumbuh dan berbuah baik di daerah dataran tinggi. Apel dikenal sebagai buah yang memiliki banyak jenis/ varietas. Sebuah catatan Departemen Pertanian Amerika menuliskan, verietas apel yang tumbuh di seluruh dunia ada sekitar 7000 jenis, baik hasil silangan maupun bukan silangan. Manfaat pada apel bagi kesehatan tubuh yaitu untuk memperkuat sistem kekebalan tubuh dan menjaga sistem penafasan agar tetap lancar karena apel memiliki kandungan mikro dan makro nutrient. Selain itu apel juga mudah di dapatkan di berbagai tempat (Wijaya and Ridwan 2019).

Tabel 1. Komposisi buah apel (tiap 100gr buah)

Sumber : Nutrisurvey (2007)

Pisang merupakan salah satu tanaman atau tumbuhan ternak yang memiliki ukuran relatif besar atau raksasa yang berdaun besar dengan suku Musaceae. Pisang merupakan tanaman yang tidak bercabang dan digolongkan dalam terna monokotil. Batangnya yang membentuk pohon merupakan batang semu, yang terdiri dari pelepah-pelepah daun yang tersusun secara teratur, percabangan tanaman bertipe simpodial (batang poko sukar ditentukan) dengan meristem ujung memanjang dan membentuk bunga lalu buah. Bagian buah bagian bawah batang pisang menggembung berupa umbi yang disebut bonggol. Pucuk lateral muncul dari kuncup pada bonggol yang selanjutnya tumbuh menjadi tanaman pisang. Manfaat pisang bagi kesehatan tubuh yaitu untuk meningkatkan kekebalan tubuh karena pada buah pisang sama halnya dengan apel yang memiliki kandungan mikro dan makro nutrien. Selain itu pisang juga mudah di dapatkan di berbagai tempat (Arifki and Barliana 2018)

Tabel 1. Komposisi buah pisang (tiap 100gr buah)

Sumber : Nutrisurvey (2007)

Pemanfaatan buah apel dan pisang kering untuk korban bencana alam sangat praktis dan mudah didapat. Buah apel juga mengandung serat yang dapat mengenyangkan perut dengan waktu yang lama agar tidak mudah lapar. Pada apel terdapat sumber vitamin c yang tinggi untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh dan juga dapat membantu tubuh melawan infeksi penyakit. Selain itu apel mengandung flavonoid dan antioksidan yang dapat membantu risiko terkena penyakit jantung. Antioksidan mempunyai peran penting dalam pencegahan kanker, diabetes, dan penyakit kardiovaskular. Apabila terdapat korban bencana alam yang mengidap penyakit tersebut akan terbantu oleh buah apel. (Boyer and Liu 2004)

Apel dan pisang kering
Sumber : Pinterest

Proses untuk mengeringkan buah apel dan pisang perlu ditambahkan dengan perasan buah lemon untuk menjaga warna pada buah agar tetap menarik tidak browning. Proses pengeringan dapat dilakukan dengan menggunakan dua cara yaitu melalui oven dan sinar matahari. Pada proses pengeringan menggunakan oven yaitu dengan cara membersihkan apel terlebih dahulu agar apel bersih. Kemudian buang bagian tengah apel dengan peralatan memasak agar mudah. Setelah itu apel utuh tersebut dicelupkan ke dalam larutan yang berisi air lemon, karena fungsi larutan tersebut untuk menjaga vitamin A dan vitamin C yang ada pada apel (Kartikorini 2017). Pada pisang, proses pengeringan menggunakan oven yaitu dengan cara mengupas kulit pisang terlebih dahulu. Setelah itu pisang utuh tersebut dicelupkan ke dalam larutan yang berisi air lemon. (Pratama, Yulianti, and Sulistiyani 2021)

Apel dan pisang kering harus disimpan dalam wadah kedap udara dan di tempat yang sejuk agar kandungan vitamin tetap terjaga setelah apel dan pisang dimasukkan ke dalam oven. Sedangkan dalam proses pengeringan menggunakan sinar matahari yaitu hanya menaruh apel dan pisang yang sudah dalam keadaan bersih di bawah sinar matahari dan di tutup menggunakan kain tipis untuk menghindari buah dari serangga. Dalam proses pengeringan apel dan pisang paling tidak sekali sehari untuk membalikkan buah – buah tersebut agar kedua sisi terkena sinar matahari dan dilakukan hingga buah – buah mengering. Dalam hal ini apel dan pisang kering tidak memerlukan porsi untuk dikonsumsi, karena buah – buah tersebut hanya sebagai makanan tambahan agar dapat memenuhi kebutuhan zat gizi pada para korban (Burtha, Syarief, and Sunarti 2008)

Prinsip dalam ilmu gizi, tidak ada makanan yang dapat memenuhi asupan zat gizi secara sempurna, maka perlu mengonsumsi makanan yang beragam. Buah kering yang ditawarkan bukan untuk mencukupi kegbutuhan gizi utama, tetapi sebagai alternatif dalam mengonsumsi buah yang mungkin sulit tersedia saat bencana. Selain itu buah juga mudah busuk sehingga membutuhkan perlakuan dan penyimpanan khusus. Dalam situasi sulit, buah-buhan kering dapat diandalkan untuk memenuhi gizi dan sangatlah mudah untuk disimpan. (Habibi, Fathia, and Utami 2019)

 

DAFTAR PUSTAKA

Arifki, Hisban Hamid, and Melisa Intan Barliana. 2018. “Karakteristik Dan Manfaat Tumbuhan Pisang Di Indonesia : Review Artikel.” Jurnal Farmaka 16(3): 196–203.

Boyer, Jeanelle, and Rui Hai Liu. 2004. “Apple Phytochemicals and Their Health Benefits.” Nutrition Journal 3(1): 1–15.

Burtha, Edwin Kastolani, Hidayat Syarief, and Euis Sunarti. 2008. “Pengelolaan Pangan Untuk Penanggulangan Bencana  Di Kabupaten Lampung Barat.” Jurnal Gizi dan Pangan 3(3): 250.

Gombart, Adrian F., Adeline Pierre, and Silvia Maggini. 2020. “A Review of Micronutrients and the Immune System–Working in Harmony to Reduce the Risk of Infection.” Nutrients 12(1).

Habibi, Nur Ahmad, Sarah Fathia, and Citra Tristi Utami. 2019. “Perubahan Karakteristik Bahan Pangan Pada Keripik Buah Dengan Metode Freeze Drying (Review).” JST (Jurnal Sains Terapan) 5(2).

Kartikorini, Nastiti. 2017. “Pengaruh Lama Perendaman Dengan Perasan Jeruk Lemon Dan Garam Dapur Terhadap Kadar Protein Tahu.” the Journal of Muhammadiyah Medical Laboratory Technologist 1(1): 1.

Pratama, M Rivaldi, Almaida Yulianti, and Devi Sulistiyani. 2021. “Pengeringan Buah Pisang Dengan Metode Pengeringan Sistem Tertutup Menggunakan Zeolit Pada Suhu Rendah.” Prosiding Diseminasi FTI Genap 1(3): 12.

Wijaya, Novan, and Anugrah Ridwan. 2019. “Klasifikasi Jenis Buah Apel Dengan Metode K-Nearest Neighbors.” jurnal SISFOKOM 08(01): 74–78.

Arifki, Hisban Hamid, and Melisa Intan Barliana. 2018. “Karakteristik Dan Manfaat Tumbuhan Pisang Di Indonesia : Review Artikel.” Jurnal Farmaka 16(3): 196–203.

Boyer, Jeanelle, and Rui Hai Liu. 2004. “Apple Phytochemicals and Their Health Benefits.” Nutrition Journal 3(1): 1–15.

Burtha, Edwin Kastolani, Hidayat Syarief, and Euis Sunarti. 2008. “Pengelolaan Pangan Untuk Penanggulangan Bencana  Di Kabupaten Lampung Barat.” Jurnal Gizi dan Pangan 3(3): 250.

Gombart, Adrian F., Adeline Pierre, and Silvia Maggini. 2020. “A Review of Micronutrients and the Immune System–Working in Harmony to Reduce the Risk of Infection.” Nutrients 12(1).

Habibi, Nur Ahmad, Sarah Fathia, and Citra Tristi Utami. 2019. “Perubahan Karakteristik Bahan Pangan Pada Keripik Buah Dengan Metode Freeze Drying (Review).” JST (Jurnal Sains Terapan) 5(2).

Kartikorini, Nastiti. 2017. “Pengaruh Lama Perendaman Dengan Perasan Jeruk Lemon Dan Garam Dapur Terhadap Kadar Protein Tahu.” the Journal of Muhammadiyah Medical Laboratory Technologist 1(1): 1.

Pratama, M Rivaldi, Almaida Yulianti, and Devi Sulistiyani. 2021. “Pengeringan Buah Pisang Dengan Metode Pengeringan Sistem Tertutup Menggunakan Zeolit Pada Suhu Rendah.” Prosiding Diseminasi FTI Genap 1(3): 12.

Wijaya, Novan, and Anugrah Ridwan. 2019. “Klasifikasi Jenis Buah Apel Dengan Metode K-Nearest Neighbors.” jurnal SISFOKOM 08(01): 74–78.

 

 By : Azizah Pusparani

        Aufa dzakiyyah

Dosen Pembimbing : Nur Amala, S.Gz., M.Gz.   

Related Posts